Derita muslim uyghur
Derita Muslim Uyghur
Muslim Uyghur masih menjadi sasaran kebrutalan, penyiksaan yang dilakukan pemerintah komunis Cina terhadap mereka tak berkesudahan. Muslim Uyghur sendiri merupakan minoritas yang menempati wilayah Xinjiang bagian selatan, dengan sekitar 11 juta jiwa dari 20 juta lebih penduduk. Xinjiang bukanlah wilayah kecil, melainkan terbilang sebagai wilayah terbesar pada Republik Rakyat Cina.
Sebagai wilayah otonom terbesar yang memiliki cadangan migas dan gas yang berlimpah, dan menjadi wilayah yang diperebutkan. Walaupun muslim uyghur menempati wilayah Xinjiang, mereka mengklaim sebagai muslim yang beretnis Turki. Ini karena wilayah Xinjiang bukanlah termasuk wilayah yang dikelilingi tembok cina, yang didirikan 2.000 tahun lalu untuk dinasti Cina. (Khazanah)
Sebenarnya konflik yang tengah menimpa muslim uyghur bukanlah berita baru, diskriminasi sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Pemerintah komunis cina beralasan, penyerangan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap bahaya ideologi Islam. Xi Jinping presiden RRC pada tahun 2013 lalu mengatakan penyerangan yang dilakukan pada Muslim Uyghur sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan terorime Islam dan separatisme, walaupun tak ada bukti fisik mengenai argumen ini.
Pada bulan Agustus lalu, berdasarkan hasil investasi UN Committee ont he Elimination of Racial Discrimination dan Amnesty International and Human Rights Watch sekitar dua juta Muslim Uyghur ditahan oleh otoritas Cina di penampungan politik di Xinjiang yang juga dinamakan sebagai kamp konsentrasi ala Nazi Jerman (Fadli Zon pada TribunNetwork).
Pemerintah komunis cina tak tanggung-tanggung dalam menyiksa tahanan muslim uyghur. Selain mengalami penahanan, Muslim uyghur mengalami penyiksaan fisik dan pemaksaan melepaskan ideologi Islam yang dimiliki. Mereka dipaksa memakan babi dan meminum alkohol, dipukuli dan bahkan tersiar kabar dimutilasi serta dipaksa keluar dari akidah Islam. Tidak hanya itu, pelarangan memakai kerudung dan menumbuhkan jenggot untuk laki-laki pun turut menjadi kebijakan dari kesewenangan pemerintah komunis Cina. (Khazanah)
Pemasangan sistem QR Code disetiap rumah Muslim uyghurpun dilakukan, demi memantau para penghuni. Dalam sistem tersebut terdapat data biometrik termasuk DNA serta sampel suara individu, sehingga para otoritas dapat melacak setiap pergerakan para penghuni rumah. (Era Muslim)
Melihat pemicu dari tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim uyghur membuat kita tau, bahwa alasan utama diskriminasi adalah karena mereka berakidah Islam. Tentu bukan hal baru, selama ini Islam selalu dikaitkan dengan terorisme, ekstrimisme, radikalisme dan isme-isme lainnya. Tengoklah tragedi yang terjadi di palestina, Irak dan negara Islam lainnya. Semua negeri Islam diserang atas dasar akidah Islam yang mereka miliki, termasuk Indonesia. Umat Islam sekarang tengah krisis dalam berbagai sisi pemikiran, budaya, ekonomi serta mulai mengalami kemerosotan dalam berukhuwah. Darah dan tubuh umat Islam begitu mudah dihancurkan, memecah belah ukhuwah umat Islam tak lagi perkara berat.
Negara-negara kafir kian gencar meluluhlantahkan Negara Islam, semua cara ditempuh agar Islam tercerai berai dan tak perduli. Nasionalisme, pratiotisme, pragmatis dan apatis menjadi penyakit yang ditanamkan negara-negara kafir pada Umat Islam. Sehingganya umat islam disebagian bumi lainnya terlena dengan nina bobo teknologi yang semakin canggih, sibuk dengan masalah percintaan. Tergerus dengan budaya yang rusak, terpusat pada masalah pendidikan dan nilai serta menjadikan materi sebaga prioritas kehidupan.
Bahkan jeritan saudara seakidah di negara sebelah seolah tak dapat didengar. Kebingasan yang terjadi pada mereka sebatas sebuah tontonan menguras air mata, mampu membuat tangan terkepal dan lisan melantunkan berbait-bait doa. Tak ada pergerakan para mujahid seperti pada peradaban Islam lalu, yang mendidih darahnya karena kebengisan para kafir, peradaban Islam yang menjaga tubuh serta darah umat Islam. Saat ini, tubuh umat Islam seolah kaku dan kaki seakan terasa berat menempuh perjuangan menuntas segala kebiadaban yang ada, hanya karena mereka tak setanah air. Jiwa Nasionalisme telah memeluk erat umat Islam, mengkubu-kubukan sehingga berdiri kokoh rasa individualisme.
Tak ada lagi sosok Al-Mu’tashim Billah, yang mendidih darahnya ketika satu orang Muslimah dilecehkan dan ditawan oleh tentara romawi. Sehingga terjadilah peristiwa sejarah pada tahun 223 H/837 M, dimana Al-Mu’tashim Billah mengirim pasukan dengan jumlah yang sangat besar demi menyelematkan Muslimah tersebut. Dengan keadaan umat Islam sekarang tak terhitung berapa banyak Muslimah yang tewas dalam diskriminasi negara kafir, terlalu banyak Muslimah yang dilecehkan di negara-negara Muslim. Kehormatan Muslimah seolah barang yang mudah didapat, dan hak-haknya dirampas.
Terlebih para pemimpin negara mayoritas Islam, bungkam dengan kebiadaban ini. Apakah karena kerjasama dengan cina dalam bidang ekonomi, membuat terdiam para pemimpin yang seharusnya paling depan dalam mengecam kebijakan biadab pemerintah komunis cina terhadap Muslim uyghur. Sebab muslim uyghur adalah saudara seakidah kita, wajib umat Islam turut dalam membebaskan Muslim Uyghur dari kedzoliman pemerintah komunis cina.
Maka saudaraku, solusi tuntas problematika umat Islam saat ini merupakan problem sistemik. Umat Islam perlu adanya negara yang melindunginya, negara yang menjamin kehidupan. Sebab diskriminasi yang terjadi pada umat Islam karena enggannya negara-negara kafir melihat Umat Islam bangkit dan bersatu dalam ukhuwah yang kuat. Saat ini umat Islam terkotak-kotak dalam beberapa negara, sehingga melemahkan ukhuwah umat Islam. Menerapkan sistem kapitalis sekuler, yang menumbuh suburkan paham nasionalis, apatis dan pragmatis serta paham-paham merusak lainnya. Yang juga menjadikan aturan manusia yang lemah sebagai hukum berbuat, sementara Syariat Allah terabaikan.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Muslim Uyghur masih menjadi sasaran kebrutalan, penyiksaan yang dilakukan pemerintah komunis Cina terhadap mereka tak berkesudahan. Muslim Uyghur sendiri merupakan minoritas yang menempati wilayah Xinjiang bagian selatan, dengan sekitar 11 juta jiwa dari 20 juta lebih penduduk. Xinjiang bukanlah wilayah kecil, melainkan terbilang sebagai wilayah terbesar pada Republik Rakyat Cina.
Sebagai wilayah otonom terbesar yang memiliki cadangan migas dan gas yang berlimpah, dan menjadi wilayah yang diperebutkan. Walaupun muslim uyghur menempati wilayah Xinjiang, mereka mengklaim sebagai muslim yang beretnis Turki. Ini karena wilayah Xinjiang bukanlah termasuk wilayah yang dikelilingi tembok cina, yang didirikan 2.000 tahun lalu untuk dinasti Cina. (Khazanah)
Sebenarnya konflik yang tengah menimpa muslim uyghur bukanlah berita baru, diskriminasi sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Pemerintah komunis cina beralasan, penyerangan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap bahaya ideologi Islam. Xi Jinping presiden RRC pada tahun 2013 lalu mengatakan penyerangan yang dilakukan pada Muslim Uyghur sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan terorime Islam dan separatisme, walaupun tak ada bukti fisik mengenai argumen ini.
Pada bulan Agustus lalu, berdasarkan hasil investasi UN Committee ont he Elimination of Racial Discrimination dan Amnesty International and Human Rights Watch sekitar dua juta Muslim Uyghur ditahan oleh otoritas Cina di penampungan politik di Xinjiang yang juga dinamakan sebagai kamp konsentrasi ala Nazi Jerman (Fadli Zon pada TribunNetwork).
Pemerintah komunis cina tak tanggung-tanggung dalam menyiksa tahanan muslim uyghur. Selain mengalami penahanan, Muslim uyghur mengalami penyiksaan fisik dan pemaksaan melepaskan ideologi Islam yang dimiliki. Mereka dipaksa memakan babi dan meminum alkohol, dipukuli dan bahkan tersiar kabar dimutilasi serta dipaksa keluar dari akidah Islam. Tidak hanya itu, pelarangan memakai kerudung dan menumbuhkan jenggot untuk laki-laki pun turut menjadi kebijakan dari kesewenangan pemerintah komunis Cina. (Khazanah)
Pemasangan sistem QR Code disetiap rumah Muslim uyghurpun dilakukan, demi memantau para penghuni. Dalam sistem tersebut terdapat data biometrik termasuk DNA serta sampel suara individu, sehingga para otoritas dapat melacak setiap pergerakan para penghuni rumah. (Era Muslim)
Melihat pemicu dari tragedi kemanusiaan yang menimpa muslim uyghur membuat kita tau, bahwa alasan utama diskriminasi adalah karena mereka berakidah Islam. Tentu bukan hal baru, selama ini Islam selalu dikaitkan dengan terorisme, ekstrimisme, radikalisme dan isme-isme lainnya. Tengoklah tragedi yang terjadi di palestina, Irak dan negara Islam lainnya. Semua negeri Islam diserang atas dasar akidah Islam yang mereka miliki, termasuk Indonesia. Umat Islam sekarang tengah krisis dalam berbagai sisi pemikiran, budaya, ekonomi serta mulai mengalami kemerosotan dalam berukhuwah. Darah dan tubuh umat Islam begitu mudah dihancurkan, memecah belah ukhuwah umat Islam tak lagi perkara berat.
Negara-negara kafir kian gencar meluluhlantahkan Negara Islam, semua cara ditempuh agar Islam tercerai berai dan tak perduli. Nasionalisme, pratiotisme, pragmatis dan apatis menjadi penyakit yang ditanamkan negara-negara kafir pada Umat Islam. Sehingganya umat islam disebagian bumi lainnya terlena dengan nina bobo teknologi yang semakin canggih, sibuk dengan masalah percintaan. Tergerus dengan budaya yang rusak, terpusat pada masalah pendidikan dan nilai serta menjadikan materi sebaga prioritas kehidupan.
Bahkan jeritan saudara seakidah di negara sebelah seolah tak dapat didengar. Kebingasan yang terjadi pada mereka sebatas sebuah tontonan menguras air mata, mampu membuat tangan terkepal dan lisan melantunkan berbait-bait doa. Tak ada pergerakan para mujahid seperti pada peradaban Islam lalu, yang mendidih darahnya karena kebengisan para kafir, peradaban Islam yang menjaga tubuh serta darah umat Islam. Saat ini, tubuh umat Islam seolah kaku dan kaki seakan terasa berat menempuh perjuangan menuntas segala kebiadaban yang ada, hanya karena mereka tak setanah air. Jiwa Nasionalisme telah memeluk erat umat Islam, mengkubu-kubukan sehingga berdiri kokoh rasa individualisme.
Tak ada lagi sosok Al-Mu’tashim Billah, yang mendidih darahnya ketika satu orang Muslimah dilecehkan dan ditawan oleh tentara romawi. Sehingga terjadilah peristiwa sejarah pada tahun 223 H/837 M, dimana Al-Mu’tashim Billah mengirim pasukan dengan jumlah yang sangat besar demi menyelematkan Muslimah tersebut. Dengan keadaan umat Islam sekarang tak terhitung berapa banyak Muslimah yang tewas dalam diskriminasi negara kafir, terlalu banyak Muslimah yang dilecehkan di negara-negara Muslim. Kehormatan Muslimah seolah barang yang mudah didapat, dan hak-haknya dirampas.
Terlebih para pemimpin negara mayoritas Islam, bungkam dengan kebiadaban ini. Apakah karena kerjasama dengan cina dalam bidang ekonomi, membuat terdiam para pemimpin yang seharusnya paling depan dalam mengecam kebijakan biadab pemerintah komunis cina terhadap Muslim uyghur. Sebab muslim uyghur adalah saudara seakidah kita, wajib umat Islam turut dalam membebaskan Muslim Uyghur dari kedzoliman pemerintah komunis cina.
Maka saudaraku, solusi tuntas problematika umat Islam saat ini merupakan problem sistemik. Umat Islam perlu adanya negara yang melindunginya, negara yang menjamin kehidupan. Sebab diskriminasi yang terjadi pada umat Islam karena enggannya negara-negara kafir melihat Umat Islam bangkit dan bersatu dalam ukhuwah yang kuat. Saat ini umat Islam terkotak-kotak dalam beberapa negara, sehingga melemahkan ukhuwah umat Islam. Menerapkan sistem kapitalis sekuler, yang menumbuh suburkan paham nasionalis, apatis dan pragmatis serta paham-paham merusak lainnya. Yang juga menjadikan aturan manusia yang lemah sebagai hukum berbuat, sementara Syariat Allah terabaikan.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
:'(
BalasHapus